SOPA – PIPA Project


SOPA dan PIPA, mungkin kamu sudah pernah dengar beberapa hari yang lalu, yang dimana penolakan masuk sebagai Trading Topic di jejaring Twitter pula. SOPA dan PIPA ini diperuntukkan bagi pengguna internet yang melanggar hak cipta yang dimana ganjarannya adalah mematikan (shutdown) website tersebut. Itulah salah satu dari sanksi yang diterima atau yang didapatkan dari kedua kebijakan tersebut.

Penolakan pun terjadi, banyak website yang memiliki traffic tinggi yang melakukan penolakan terhadap kedua kebijakan ini, SOPA – PIPA. Dengan pemadaman (blackout) laman mereka yang dilakukan sebagai aksi protes. Sebelum membahas lebih lanjut. Ada baiknya kita mengetahui apa itu SOPA – PIPA.

Berawal dari Sebuah Keputusan

SOPA, Stop Online Piracy Act (Undang-Undang Penghentian Pembajakan Daring/On Line), juga dikenal dengan House Bill 3261 (Rancangan Undang-Undang dari Dewan Perwakilan Rakyat nomor 3261) atau H.R. 3261, adalah sebuah rancangan undang-undang yang dikemukakan di Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat pada 26 Oktober 2011 oleh Ketua Komite Kehakiman Dewan Perwakilan Amerika Serikat Lamar Seeligson Smith dari Partai Republik Tujuan dari undang-undang ini adalah Melindungi kekayaan intelektual dari pencipta konten dan Perlindungan terhadap obat-obatan palsu. Undang-undang ini akan memberikan dampak kepada Situs web yang menyimpan konten pengguna Websites that host user content; Melemahnya perlindungan “safe harbor;” Bisnis yang berhubungan dengan web; Pengguna yang mengunggah konten illegal; Jaringan internal.

PIPA atau PROTECT IP Act, Preventing Real Online Threats to Economic Creativity and Theft of Intellectual Property Act of 2011 (Undang-Undang tahun 2011 mengenai Pencegahan Ancaman Daring/On Line Nyata terhadap Kreativitas Ekonomik dan Pencurian Kekayaan Intelektual), juga dikenal dengan Senate Bill 968 (Rancangan Undang-Undang dari Senat nomor 3261) atau S. 968, adalah sebuah rancangan undang-undang yang bertujuan untuk memberikan peralatan tambahan bagi pemerintah Amerika Serikat dan pemegang hak cipta untuk membatasi akses ke “situs nakal yang memuat pelanggaran maupun barang bajakan”, terutama produk yang didaftarkan di luar Amerika Serikat. Rancangan undang-undang ini dikemukakan pada 12 Mei 2011 oleh Senator Patrick Leahy (D-VT).

MegaUpload

Satu korban dari kebijakan ini sudah ada, yakni file sharing miliki Kim Dotcom, MegaUpload.com. Yang ditutup website nya tanggal 19 Januari 2012 yang lalu. Yang dimana Kim Dotkom dan ketiga temannya Fin Batato, Mathias Ortman dan Bram van der Kolk Bramos ditangkap di Mansion DotCom di Selandia Baru. Penangkapan yang terjadi seperti film-film action, dimana rumah milik DotCom ini dilengkapi dengan keamanan elektronik dan penjagaan super ketat disaat dia mengetahui kepolisian Selandia Baru. Tanggal 23 Januari 2012, adalah sidang perdana keempat petinggi file sharing tersebut.

Tak hanya MegaUpload, beberapa file hosting ternama pun mencoba untuk mengantisipasi agar tidak diblok lamannya oleh pemerintah dengan melakukan menyaringan file yang di unggah oleh pengguna. Seperti File Sonic, Media Fire, 4Shared.

Penolakan Tak Terbendung

Penolakan atas SOPA – PIPA ini dilakukan oleh website atau software yang free source ternama, seperti Wikipedia (En), Mozilla, WordPress.


Wikipedia






.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sedangkan untuk jejaring sosial terbesar, Facebook. Mark Zuckerberg sebagai pendiri Facebook tidak melakukan pemadaman (blackout) melalui akun pribadinya, mengungkapkan pendapat tentang aturan tersebut. Kata Zuck, Internet merupakan perangkat yang kita miliki yang berkekuatan besar untuk menciptakan dunia lebih terbuka dan saling terhubung. Karena itu, suatu aturan yang buruk tidak bisa dibiarkan begitu saja masuk ke dalam jejaring Internet. “Facebook menentang SOPA dan PIPA, dan kami akan terus menentang setiap hukum yang bakal mencederai Internet,” tulis Zuck di dinding Facebook-nya.

“Akan tetapi, kami percaya kalau PIPA dan SOPA yang diusulkan oleh Kongres bukan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah ini karena RUU ini bisa menyebabkan kerusakan besar yang berdampak kepada Internet,” tulis Facebook. Mark juga menambahkan bahwa dengan melakukan atau menyetujui kebijakan ini, beranggapan bahwa SOPA – PIPA ini telah “Sakiti” internet.

Tidak hanya pendiri dari website atau platform, musisi dan seniman Hollywood sendiri pun melakukan penolakan aturan SOPA-PIPA. Meski mereka kerap menjadi korban pembajakan, aturan baru tersebut dianggap tak adil. 

Berikut daftar seniman dan perusahaan rekaman serta pembuat film yang menuliskan surat terbuka penolak dua aturan tersebut.

Aziz Ansari, aktor
Kevin Devine, musisi
Barry Eisler, penulis
Neil Gaiman, penulis
Lloyd Kaufman, sutradara
Zoë Keating, musisi
Dua pemeran The Lonely Island
Daniel Lorca, musisi
Erin McKeown, musisi
Perusahaan pembuat film, MGMT
Samantha Murphy, musisi
OK Go, band
Amanda Palmer, musisi
Perusahaan pembuat film, Quiet Company
Trent Reznor
Adam Savage, musisi anggota Special Effects Artist (MythBusters)
Hank Shocklee, produser
Johnny Stimson, musisi

Serangan

Kelompok hacker alias peretas Anonymous melakukan pembalasan atas ditutupnya situs Megauploads. Anonymous pun menyerang situs Departemen Kehakiman Amerika Serikat pada Jumat, 20 Januari 2012. Hingga saat ini, situs ini belum bisa diakses.

Tak hanya itu, peretas juga menyerang situs-situs pendukung Stop Online Piracy Act (SOPA) dan Protect Intellectual Property Act (PIPA), seperti perusahaan rekaman RIAA, BMI, Universal, dan Warner, dan perusahaan pembuat film MPAA. 

Murkanya peretas ini sebagai protes atas tindakan FBI menutup situs file-sharing ini pada Kamis, 19 Januari 2012, karena dianggap mendukung pembajakan. Menggunakan layanan bernama Distributed Denial of Service (DDoS), Anonymous pun melakukan serangan. 

Melalui akun Twitter @YourAnonNews, Anonymous mengkonfirmasi aksi pembajakan ini. “@YourAnonNews Word has it that FBI.govt is next to go down…will report when it is”.

Masih di menit yang sama, muncul tweet berikutnya berbunyi,“@YourAnonNews Riaa.com isn’t loading…oops #expectus. Riaa yang dimaksud adaah situs http://www.riaa.com milik perusahaan rekaman Recording Industry Association of America (RIAA). Hingga siang ini, Jumat, 20 Januari 2012, situs RIAA belum bisa dibuka.

Tiga menit kemudian, “@YourAnonNews Copyright govt.is tango down #expectus”. Empat menit kemudian, tweet konfirmasi terakhir mereka muncul,“@YourAnonNews Looks like justice gov. is having some issues loading….oops”.

Kini FBI sedang melakukan penyelidikan terhadap Anonymous yang menghajar situs layanan kartu kredit, PayPal, yang terhubung dengan situs jual-beli e-Bay. Pada November 2011, terdakwa bebas dari hukuman karena terbukti tidak bersalah. Kasus ini lebih rumit karena Anonymous mengklaim ada 5.635 orang yang bekerja di balik kelompok itu.

Sejumlah situs yang terkena serangan hacker biasanya pada laman utamanya tercantum “down for maintenance”. Namun, pada situs Kepolisian Kota Utah, tercantum informasi bahwa situs tersebut dibajak oleh kelompok Anonymous.

Selain itu, bagi user awam yang menolak SOPA – PIPA, bisa melakukan pembajakan dengan mudah, seperti laman berikut WebHive v1.0 by AnonMaca


Alternatif

Saat menghitamkan logo di halaman pencarinya selama sehari, Google menyebutkan bahwa langkah itu merupakan simbol bahwa aturan yang dimuat SOPA akan menjadikan masa depan internet gelap, karena sejumlah situs akan dipaksa untuk menutup akses ke situs yang dianggap memuat konten yang dinilai hasil pembajakan.

Tapi ini bukan berarti Google menolak adanya aturan yang mengatur soal pembajakan di Internet. Raksasa mesin pencari ini pun kemudian menyodorkan aturan alternatif pengganti SOPA, yaitu OPEN.

OPEN atau Online Protection and Enforcement of Digital Trade merupakan Rancangan Undang-Undang yang pernah diajukan oleh Darrel Issa, anggota Kongres asal California dari Partai Republik.

Lalu apa beda OPEN dengan SOPA/PIPA?

Bedanya ada pada penindakan. SOPA/PIPA akan memungkinkan Departemen Kehakiman AS untuk meminta polisi menutup situs yang menyediakan tautan ke sejumlah situs yang dianggap memiliki konten pembajakan. Jelas ini merupakan ancaman bagi situs mesin pencari seperti Google. Sedangkan OPEN, penindakan yang diatur bersifat lebih lunak. Dalam aturan di OPEN, Komisi Perdagangan Internasional (International Trade Commision) akan menjadi lembaga yang mengatasi sengketa hukum terkait pembajakan.

Walaupun berasal dari Partai Republik, Issa digambarkan sebagai sosok pengguna Internet yang liberal. Issa menyusun konsep yang dipercaya tidak akan merusak ekosistem Internet dalam legislasinya. Issa dikabarkan akan memperkenalkan OPEN ke Kongres AS, tak lama setelah penolakan terhadap SOPA/PIPA muncul. Google pun bukanlah pendukung tunggal atas aturan OPEN ini. Penolak SOPA terbesar, Reddit, juga disebut mulai melirik OPEN, walau belum memberikan dukungan secara penuh. General Manager Reddit, Erik Martin, mengatakan OPEN sebagai “awal yang baik”.

Bagi Indonesia

Penyedia layanan internet populer, mulai dari Google hingga Wikipedia, menolak rancangan undang-undang anti-pembajakan online di AS. Undang-undang yang dimaksud ada dua, Stop Online Piracy Act (SOPA) dan Protect IP Act (PIPA). Keduanya masih dalam proses legislasi.

Tanpa terlalu jauh membahas detail perundangannya, SOPA dan PIPA agaknya tak hanya berdampak pada situs AS. Justru, target dari RUU tersebut adalah situs yang berada di luar AS. Lewat RUU tersebut, nantinya situs di luar AS yang dianggap melanggar hak cipta bisa diblokir sepihak. Pemblokiran sepihak, ada dua metode blokir. Pertama, penyelenggara jasa internet di AS memblokir domain situs yang melanggar.

Metode pertama ini jadi keberatan banyak pihak dan, menurut PC World, sudah dihilangkan dari rancangan SOPA dan PIPA terbaru. Metode kedua adalah menghentikan bisnis dari penyedia jasa pembayaran, iklan, dan mesin pencari dari situs yang melanggar.

Salah satu penerapannya, jika ada suatu situs (termasuk di Indonesia) yang dianggap melanggar, maka Google sebagai mesin pencari tak boleh menampilkan situs itu di hasil pencarian. Contoh lainnya, jika situs yang dianggap melanggar tadi memanfaatkan jasa PayPal untuk pembayaran, atau AdSense untuk iklan, layanan itu juga harus dihentikan.

SOPA dianggap lebih garang dari PIPA karena mendefinisikan situs yang melanggar sebagai “situs apa pun yang melakukan atau memfasilitasi pelanggaran hak cipta”. Ingat bahwa hak cipta di sini bukan hanya konten bajakan, semisal videoklip musik, lagu, atau software. Ini juga mencakup produk fisik yang dianggap melanggar, misalnya mainan anak-anak versi “kw”.

Ini hanya contoh, tetapi mungkin bisa jadi ilustrasi dampak SOPA. Misalnya, di forum jual beli sebuah komunitas terbesar di Indonesia atau toko online terbuka lainnya terdapat penjual produk bajakan. Lewat SOPA, situs tersebut bisa dilarang berbisnis dengan AS. Dengan demikian, iklan (seperti Google Ads atau lainnya) tak akan muncul di situs tersebut.

Electronic Frontier Foundation (EFF) menolak SOPA dan PIPA. EFF menyebut bahwa RUU tersebut tidak melindungi tuduhan yang salah. Misalnya sebuah situs dituding melanggar, tetapi terbukti tidak bersalah, tetap saja situs itu akan dirugikan. Mereka tak akan mendapat ganti rugi dari pemblokiran iklan dan layanan pembayaran.

Sumber:

Stop Online Piracy Act – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

PROTECT IP Act – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Hacker Anonymous Sikat Situs Pemerintah – Tempo.com

PIPA | Puluhan Seniman Hollywood Menolak SOPA – Tempo.com

Bos Facebook Ikut Tolak SOPA dan PIPA – Tempo.com

Okezone Techno – Pendiri Facebook Anggap SOPA & PIPA ‘Sakiti’ Internet

VIVAnews – Tolak SOPA, Google Tawarkan Alternatif

Dll.

🙂 dengan perubahan seperlunya.

One thought on “SOPA – PIPA Project

  1. Pingback: SOPA, PIPA or ACTA ?! | CapCyus.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s